Pemkab Banyuwangi dan OJK Hadirkan Program Berantas Rentenir

Program tersebut dihadirkan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di sela-sela “Hari Belanja di Pasar dan UMKM” di Pasar Rogojampi.

Pemkab Banyuwangi dan OJK Hadirkan Program Berantas Rentenir
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat launching program pemberantasan rentenir.
Pemkab Banyuwangi dan OJK Hadirkan Program Berantas Rentenir

Banyuwangi, HB.net - Pemkab Banyuwangi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghadirkan program pemberantasan rentenir di sejumlah pasar di Banyuwangi. Tujuannya untuk mengalihkan akses keuangan pedagang pasar yang kerap meminjam pada rentenir dengan bunga tinggi, menuju ke akses kredit murah dari lembaga jasa keuangan.

Program tersebut dihadirkan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di sela-sela “Hari Belanja di Pasar dan UMKM” di Pasar Rogojampi. Tahap awal, gerakan ini dilakukan di 5 pasar, yaitu Pasar Rogojampi, Pasar Banyuwangi, Pasar Genteng 1, Pasar Genteng 2, dan Pasar Blambangan, yang total diisi ratusan pedagang.

“Banyak pelaku usaha mikro-kecil yang masih kesulitan mengakses modal murah dari lembaga jasa keuangan resmi, sehingga banyak yang terjerat rentenir dengan bunga mencapai puluhan persen per tahun. Ada yang 50 persen lho,” ujar Ipuk.

Dalam gerakan pemberantasan rentenir ini, sejumlah fasilitas pembiayaan murah yang sebagian merupakan program bersubsidi dari pemerintah, bisa diakses pedagang pasar. Agen-agen dari BRI dan Pegadaian masuk ke pasar. Misalnya, Pegadaian dengan pinjaman tertentu berbunga 0 persen. Kemudian BRI punya kredit usaha rakyat berbunga 6 persen per tahun dengan nilai pinjaman bisa mencapai Rp 10 juta hingga ratusan juta.

“Selain dari sisi bunga, tenor atau jangka waktu pinjaman juga memberi ruang yang cukup bagi pelaku usaha untuk bergerak mengembangkan usahanya. Dengan modal murah, keuntungan pedagang bisa lebih tinggi, hidup tenteram, tidur lebih nyenyak karena tidak dicekik bunga tinggi,” papar bupati.

“Ini juga sekaligus upaya kami meningkatkan inklusi keuangan, aksds keuangan yang inklusif bisa dinikmati pelaku usaha mikro-kecil,” imbuhnya.

Kepala Bagian Pengawasan OJK Perwakilan Jember, Zulkifli mengungkapkan, saat ini secara nasional, literasi keuangan masyarakat masih rendah. Sehingga banyak masyarakat terjebak rentenir. OJK bersama Pemkab Banyuwangi mendorong inklusi keuangan dengan mendekatkan institusi keuangan ke pasar.

"Kami mendorong pelayanan keuangan yang lebih mudah, murah dan cepat. Pedagang tidak harus meninggalkan lapak, tapi layanannya yang datang ke pedagang," imbuhnya. Zulkifli menjelaskan, dalam gerakan ini, OJK menggandeng dua lembaga, BRI dan Pegadaian, yang menempatkan agen-agennya di pasar.  Agen-agen tersebut bertugas melayani keperluan pedagang pasar, baik pinjaman maupun simpanan.

Manager PT Pegadaian Cabang Rogojampi, Hendra mengatakan, agennya akan keliling ke lapak-lapak seminggu sekali. “Jika ada pedagang membutuhkan permodalan, bisa lewat agen kami. Termasuk pedagang yang ingin melakukan pembayaran, cukup melalui agen kami. Kami juga memiliki program pinjaman pedagang super mikro. Pinjaman maksimal Rp 1 juta dikenakan bunga 0 persen. Sangat ringan," katanya.

Hal senada disampaikan Manager Pemasaran BRI Banyuwangi, Dhomi. "Agen kami sudah ada di pasar-pasar. Mereka membantu pedagang untuk mengakses permodalan," kata dia. (guh/diy)