TTL Hadirkan Area Layanan Fumigasi

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Perak, Captain Heru Susanto, MM, menyampaikan ucapan selamat atas soft launching yang digelar.

TTL Hadirkan Area Layanan Fumigasi
Kegiatan saat peluncuran area layanan fumigasi dan pemeriksaan kulit mentah garaman.

Surabaya, HB.net - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur  (Jatim) melakukan peluncuran Area Layanan Fumigasi dan Pemeriksaan Kulit Mentah Garaman di Terminal Teluk Lamong (TTL) yang merupakan bagian dari wilayah Pelabuhan Tanjung Perak. Peluncuran ini merupakan upaya untuk mendapatkan penilaian rapor hijau dari evaluasi Tim Stranas PK - KPK.

“Saat ini hasil evaluasi, Pelabuhan Tanjung Perak masih kuning atau belum hijau dan disinyalir karena belum terealisasinya layanan pemeriksaan ini di lini satu,” kata Kepala Karantina Jatim, Muhlis Natsir.

Sebagai informasi, dari 46 pelabuhan dan 6 bandar udara di Indonesia, Jatim bersama unsur Pelabuhan, KSOP, Bea Cukai, dan entitas terkait, gerak cepat dalam penyelesaiannya. Salah satunya dengan membangun failitas layanan fumigasi dan pemeriksaan kulit mentah garaman di TTL.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Perak, Captain Heru Susanto, MM, menyampaikan ucapan selamat atas soft launching yang digelar. "Semoga niat baik kita mendapatkan ridho dari Allah SWT,” katanya.

Direktur Utama TTL, David Pandapotan Sirait, juga selaras dalam upaya menyelesaikan penilaian raport kuning dari Stranas PK.

“Area pemeriksaan kulit mentah garaman dan layanan fumigasi di lini satu ini, merupakan yang pertama kali di Pelabuhan Tanjung perak, bahkan mungkin yang pertama di Indonesia,” katanya.

“Harapannya, fasilitas ini dapat meningkatkan layanan importasi di Terminal Teluk Lamong pada khususnya" ungkap David. “Mari kita bergerak bersama untuk wujudkan tujuan besar ini, segera Pelabuhan Tanjung Perak ini menjadi hijau,” imbuhnya.

Dalam kegiatan soft launching ini dilakukan perdana untuk fumigasi komoditas impor biji pala, asal China sejumlah 27 ton. Dari hasil pemeriksaan Pejabat Karantina Tumbuhan, BKHIT Jatim ditemukan tiga organisme pengganggu Tumbuhan (OPT) serangga hidup populasi tinggi, yaitu Cigarette Beetles (Lasioderma serricorne), Red Flour Beetle (Triboliium castaneum), dan Coffee Bean Weevil (Araecerus fasciculatus). (diy/ns)