Dinas Kesehatan Jatim Luncurkan e-DESI, Aplikasi yang Mampu  Deteksi Dini Risiko Hipertensi Mandiri 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kesehatan Provinsi Jawa Timur menciptakan aplikasi digital yakni e-DESI (Deteksi Dini Faktor Risiko Hipertensi Secara Mandiri).

Dinas Kesehatan Jatim Luncurkan e-DESI, Aplikasi yang Mampu  Deteksi Dini Risiko Hipertensi Mandiri 

Surabaya, HB.net -  Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan, kesehatan adalah salah satu modal utama dalam mewujudkan Jatim bangkit lebih kuat dan hebat. Karena itu Pemprov Jatim akan terus memprioritaskan program yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

"Kami sangat memahami bahwa isu kesehatan ini adalah isu yang sangat penting. Sebab, dengan kesehatan, kita semua dapat beraktivitas dan kembali produktif," kata dia.

Gubernur menekankan, pelayanan kesehatan sudah menjadi hak warga. Gubernur bertekad akan melakukan pembenahan pada sistem kesehatan yang ada. Kesehatan akan menjadi prioritas utama yang akan terus dibangun untuk  mewujudkan misi  Optimis Jatim Bangkit. Masyarakat sehat dan ekonomi sehat.

Sejalan dengan program Gubernur tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kesehatan Provinsi Jawa Timur menciptakan aplikasi digital yakni e-DESI (Deteksi Dini Faktor Risiko Hipertensi Secara Mandiri).

Aplikasi ini  untuk masyarakat terutama yang beresiko hipertensi agar mendapat tatalaksana klinis guna mencegah terjadinya komplikasi/kematian sehingga mengurangi beban pembiayaan. Maka, perlu dilakukan sebuah aksi perubahan melalui akselerasi deteksi dini faktor risiko Hipertensi secara mandiri dengan digitalisasi. Metode untuk mendeteksi faktor risiko hipertensi yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara menilai diri sendiri.

Kepala Dinkes Jatim, Dr. Erwin Astha Triyono, dr., Sp.PD., KPTI., FINASIM mengatakan, harapan dari aplikasi tersebut yakni dapat diakses semua masyarakat.

"Dengan aplikasi ini, diharapkan menemukan kasus berdasarkan kemandirian dari masyarakat dan memudahkan petugas kesehatan untuk mengetahui data kondisi hipertensi di wilayahnya, sehingga dapat mendorong adanya perubahan paradigma. Jika semula tenaga kesehatan difasilitas kesehatan mencari pasien untuk diobati, sekarang diubah, masyarakat yang membutuhkan penanganan karena bisa mengetahui sendiri faktor risiko dengan adanya unsur edukasi didalam self assesment," ungkap Kadinkes Jatim, saat melaunching aplikasi e-DESI di Surabaya, Rabu (3/05/2023).

Lebih lanjut, Erwin mengatakan, kunci hipertensi itu adalah penanganan secara dini.

"Kami akan terus memberikan edukasi kepada masyarakat. Jangan sampai hipertensi menggandeng penyakit yang lain seperti jantung, stroke, ginjal dan lainnya. Sehingga diharapkan dengan deteksi ini lebih dini ditermukan, pengobatannya lebih sederhana sehingga keberhasilan mencegah jangan sampai masuk ke komplikasi yang lebih berat bisa kita hindari," tegas dia.

Di tempat yang sama, Ketua PERNEFRI Jawa Timur, Dr. Pranawa SpPD., KGH., FINASIM mengatakan,  secara nasional berdasarkan data berdasarkan hasil Riskesdas, prevalensi hipertensi itu sebanyak 36,3 persen.

"Sebetulnya, masalahnya akibat dari hipertensi ini bisa mengganggu atau merusak bagian tubuh yang lain, seperti jantung, ginjal, dan otak. Penyebab orang yang cuci darah itu lebih dari 30 persen karena hipertensi. Maka deteksi dini hipertensi sangat penting. Selanjutnya, Jangan berhenti di aplikasi. Selanjutnya akan kita ukur tekanan darahnya dan sekarang dengan adanya alat-alat yang bisa di aplikasikan dengan harga terjangkau, masyakarat bisa mengukur sendiri," kata dia.

Tekanan darah, lanjutnya, harus diukur bukan dirasakan. Penderita hipertensi harus minum obat sepanjang masa.

"Yang merusak ginjal itu bukan obatnya tapi hipertensinya. Dan berhenti minum obat sampai tekanan darahnya terkendali," terang dia.

Kabid Layanan Kesehatan (Yankes) Dinkes Jatim Ninis Herlina Kirana Sari mengatakan, masyarakat hanya butuh waktu sekitar 1 menit untuk mengisi identitas diri dan menjawab 15 pertanyaan diaplikasi e-DESI.

Setelah semua pertanyaan terisi maka akan terlihat skor, jika skornya > 7 (lebih dari 7) maka termasuk berisiko tinggi Hipertensi dan dilanjutkan mengisi fasilitas kesehatan yang akan dituju untuk melakukan penegakan diagnosa hipertensi.

Jika skornya < 7 (kurang dari 7) maka berisiko rendah hipertensi dan diedukasi untuk menerapkan perilaku CERDIK (Cek Kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres) dan melakukan akupresur secara mandiri serta memanfaatkan TOGA (Taman Obat keluarga) untuk menjaga kesehatan.

"Diharapkan semua masyarakat khususnya yang berusia > 18 tahun untuk mengisi aplikasi e-Desi," pungkas dia. (mid/ns)