PMTL JTQ Jatim akan Adakan Tasyakuran Akbar Khataman Alquran Berbagai Riwayat

Program Murattal Tujuh Lagu (PMTL) Jam’iyuah Tilawatil Qur’an (JTQ) Provinsi Jawa Timur akan menyelenggarakan Tasyakuran Akbar Khataman Alquran berbagai riwayat.

PMTL JTQ Jatim akan Adakan Tasyakuran Akbar Khataman Alquran Berbagai Riwayat
Pembina PMTL sekaligus Ketua JTQ Jatim Choirul Anam Djabar (tengah) dan perwakilan pengkhatam Alquran, Moh. Junaidi (kanan).

Surabaya, HARIANBANGSA.net - Program Murattal Tujuh Lagu (PMTL) Jam’iyuah Tilawatil Quran (JTQ) Provinsi Jawa Timur akan menyelenggarakan Tasyakuran Akbar Khataman Alquran berbagai riwayat. Kegiatan ini bakal digelar di Masjid Hidayatullah, Jalan Raya Kandangan No. 21 Surabaya, Sabtu (28/12) mulai pukul 19.00 WIB sampai selesai.

Pembina PMTL sekaligus Ketua JTQ Jatim Choirul Anam Djabar menjelaskan, ada delapan orang yang akan melaksanakan tasyakuran khataman Alquran tersebut. Masing-masing Sugiyono, Suwito, Rifa’i, Kholilah, Sri Wahyuni, dan Sumarti (Jamak Riwayat Syu’bah dan Hafsh Imam Ashim). Sedangkan M. Junaidi (Riwayat Qalun Imam Nafi’) dan Nor Azizah (Riwayat Warsy Imam Nafi’).

“Para pengkhatam Alquran tersebut, semuanya telah mengkhatamkan atau menyetorkan bacaan 30 juz kepada kami.Baik secara langsung maupun online, yakni melalui voice note WA, Google Meet, Zoom, maupun live bersama Youtube,” kata Abah Anam, sapaan akrab Choirul Anam Djabar didampingi perwakilan pengkhatam Alquran, Moh. Junaidi, Jumat (27/12).

Lebih lanjut, Abah Anam menjelaskan, para pengkhatam Alquran tersebut semua melalui tahapan-tahapan sebelumnya. Di antaranya mereka wajib setor surat-surat pendek terlebih dahulu. Mulai dari Al Fatihah, An Naas, Al Falaq, Al Ikhlas, dan seterusnya sampai Adh Dhuha.

Setelah itu, lanjut dia, mereka juga diwajibkan melalui tahapan setoran buku Kembali ke Al-Baghdadi Menuju Murattal Tujuh Lagu. “Buku yang kami susun ini sebenarnya mengutip dari kitab Al-Baghdadi. Metode membaca Alquran yang dulu dikenal dengan ‘turutan’, yang saat ini banyak dilupakan orang seiring munculnya metode-metode baru,” tutur Abah Anam.

Buku tersebut, lanjut Abah, tidak semuanya mengutip dari Al-Baghdadi, akan tetapi sudah dikombinasikan dengan sumber-sumber lain. Semuanya menjadi 18 pelajaran. Setelah menyelesaikan 18 pelajaran tersebut, para peserta diharapkan bisa menghafalkan surat-surat pendek.Mulai dari Surat Al Fatihah, An Naas, Al Falaq, dan seterusnya sampai Adh Dhuha.  “Setelah itu, ada bacaan Surat Yasin karena surat ini sering digunakan di masyarakat,” ujar Abah Anam.

Setelah menyelesaikan Surat Yasin, masih kata Abah Anam, para pembaca atau peserta diarahkan untuk mempelajari tujuh lagu Alquran yang sudah disepakati oleh ulama qurra, yakni lagu Bayyati, Hijaz, Shaba, Rast, Jiharkah, Sika, dan Nahawand.

“Masing-masing lagu tersebut ada referensinya. Misalnya, lagu Bayyati dengan referensi Surat Al-Buruj, lagu Hijaz Surat Al-Fajr, lagu Shaba Surat Al- Balad, lagu Rast Surat Al-A’la, dan seterusnya,” jelas dia.

Yang perlu diketahui, bahwa semua pelajaran da isi dalam buku tersebut, terdapat barcode cara membacanya dengan mengarah ke link Youtube. Setelah mengkhatamkan Al-Baghdadi, baru para peserta PMTL mengaji mulai Surat Al-Baqarah. Mereka diharapkan sudah bisa menerapkan ketujuh lagu tersebut kepada ayat-ayat yang lain. “Sehingga setiap pertemuan, mereka ganti lagu,” tandas Abah Anam.

Sementara itu, Abah Anam juga menjelaskan, ketika sampai pada Alquran, para peserta PMTL langsung diarahkan ke riwayat lain selain Riwayat Hafsh yang sudah biasa kita pakai. Seperti Riwayat Syu’bah, Qalun, Warsy, dan sebagainya.

Abah Anam juga menjelaskan, selain mengaji Alquran, para peserta juga diajak bersama-sama mempelajari kitab tajwid, masing-masing Hidayatush-Shibyan, Tuhfatul Athfal, Jazariyah, dan Asy-Syatibiyah. Semua kitab tersebut berbentuk nadhaman (syair) dengan menggunakan lagu yang lain setiap kitabnya.

“Kitab Hidayatush-Shibyan dan Tuhfatul Athfal fokus membahas hukum nun sukun dan tanwin bertemu dengan huruf hijaiyah, mim sukun bertemu dengan huruf hijaiyah, hukum mad (panjang-pendek) dan lain-lain. Sementara kitab Jazariyah lebih fokus pada pembahasan makharijul huruf dan sifatul huruf. Dan kitab Syatibiyah membahas soal Riwayat.” pungkas Abah Anam.(rd)