Komisaris PLN Luncurkan Buku Listrik di Masa Kolonial

Komisaris PLN Eko Sulistyo menulis buku berjudul Jejak Listrik di Tanah Raja: Listrik dan Kolonialisme di Surakarta.

Komisaris PLN Luncurkan Buku Listrik di Masa Kolonial
Komisaris PLN Eko Sulistyo (tengah kemeja hitam) saat bedah buku Jejak Listrik di Tanah Raja.

Surabaya, HARIANBANGSA.net - Komisaris PLN Eko Sulistyo menulis buku berjudul Jejak Listrik di Tanah Raja: Listrik dan Kolonialisme di Surakarta. Buku ini bercerita tentang kehadiran listrik di tanah kolonial di Surakarta.

"Pesan dari buku yang saya tulis ini adalah kajian historis yang menceritakan tentang kehadiran listrik di tanah kolonial di Surakarta," ujar Eko usai melakukan bedah dan diskusi buku tersebut di Surabaya, Sabtu (15/01).

Eko mengatakan, ia menulis buku tersebut karena ingin listrik tidak hanya dipahami dari infrastruktur kerasnya. Misalnya soal jaringan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET), gardu induk, travo, dan sebagainya. Tetapi listrik ini juga menghadirkan jaringan lunak atau infrastruktur lunak yang ia sebut dengan perubahan sosial, budaya, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.

"Artinya, narasi tentang listrik yang dipahami dengan infrastruktur keras tadi supaya memiliki arti lain. Bahwa ada dampak yang dihadirkan listrik terhadap infrastruktur lunak," kata dia.

Eko menjelaskan, dari konteks sejarah yang ada di manapun, entah di kawasan Afrika,  Eropa, di negara komunis maupun kapitalis, bahwa kota yang dialiri listrik itu akan menjadi kota yang secara ekonomi lebih maju dari daerah yang tidak dialiri listrik.

"Ini yang memberi mandat bagi PLN untuk melistriki atau mencapai rasio elektrifikasi 100 persen. Supaya jangan sampai ada lubang dari daerah tertentu yang masih belum ada listriknya," ujarnya.

PLN, lanjut Eko, terus mengejar rasio elektrifikasi tersebut. Karena menurut Eko, kehadiran listrik di suatu daerah itu pasti akan memberikan dampak yang cepat. Baik dari sisi ekonomi, pendidikan kemudian dari sisi lainnya.

Mengenai tantangan elektrifikasi 100 persen, Eko menyatakan PLN telah mencapai elektrifikasi sebesar 99,28 persen. "Sisanya adalah daerah-daerah terpencil, terluar, yang secara geografis mempunyai akses yang sulit," ungkap Eko.

Di tempat yang sama, Direksi PT. PJB Gong Matua Hasibuan menyambut baik diluncurkannya buku Jejak Listrik di Tanah Raja: Listrik dan Kolonialisme di Surakarta.

Menurutnya, buku tersebut adalah buku pertama yang mencoba menjelaskan bisnis listrik. Selama ini, kata Gong, listrik konotasinya bisnis yang keras karena memakai mesin dan transmisinya tegangan tinggi. 

"Ternyata ada bahasa yang lugas. Kita bisa menjelaskan kepada para pelanggan tentang apa yang kita hadapi selama ini. Menurut kami sangat luar biasa. Tidak hanya melalui buku. Tapi juga membangun komunikasi yang berbeda dari selama ini," ucapnya.

Disisi lain, ahli sejarah Profesor  Purnawan Basundoro yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya mengungkapkan, kajian sejarah kelistrikan sangat jarang dilakukan. Padahal relevansi kelistrikan dengan kondisi sekarang sangat erat. Ini terlihat dari ketika pasokan listrik mati akan membuat masyarakat kelabakan dan kebingungan. Kehidupan seolah berhenti.

"Kota tradisional Surakarta berubah total dengan kehadiran listrik. Berbagai perubahan terjadi di sana. Misal perubahan landscape Kota Surakarta. Sebelum listrik datang, penerangan Kota Surakarta dari obor, dari daun, kelapa dan gas,” katanya.

Dengan adanya listrik, lanjutnya, Kota Surakarta yang remang-remang menjadi terang benderang. Sehingga berdampak sangat banyak. Di balik kota terang ada dampak yang multi. “Inilah mengapa listrik menjadi begitu menarik perhatian dan penting," pungkasnya.(mid/rd)